Minggu, 12 Mei 2013

Tahukah Anda bahwa 6%-10% wanita di dunia ini mengalami endometriosis? Terdapat setidaknya 35%-50% wanita di dunia yang mengalami nyeri pelvis ternyata menderita endometriosis dan sekitar 38% wanita di dunia yang mengalami infertilitas ternyata mengalami endometriosis.
Endometriosis adalah gangguan pada sistem reproduksi wanita yang ditandai dengan pertumbuhan jaringan endometrial di luar rahim. Jaringan tersebut merupakan jaringan penyusun rahim dan seharusnya terletak di dalam rahim. Selain menimbulkan nyeri yang parah, endometriosis dapat menyebabkan infertilitas atau kemandulan. Rasa nyeri tersebut dapat muncul karena terjadinya penekanan serabut syaraf oleh jaringan endometrial, serta inflamasi (peradangan) di sekitar lesi endometrial karena pelepasan prostaglandin. Prostaglandin merupakan mediator inflamasi yang dapat menyebabkan rasa nyeri. Pada endometrosis yang parah, infertilitas bisa terjadi akibat perubahan struktur dari pelvis (panggul) sebagai akibat adanya inflamasi serta luka di sekitar jaringan endometrial.
Lantas apa penyebab endometriosis? Terdapat beberapa teori tentang proses terjadinya endometriosis, salah satunya teori retrograde menstruation. Teori retrograde menstruation mengatakan bahwa darah haid dapat berbalik ke rahim, membawa serta sel endometrium masuk ke dalam rongga peritoneum melalui tuba falopi atau saluran telur dan selanjutnya berkembang menjadi endometriosis. Gejala endometriosis antara lain dismenorea (nyeri yang berlebihan saat menstruasi), sakit saat berhubungan badan, sakit saat buang ait kecil, sakit saat buang air besar, serta nyeri pada perut atau pinggang. Namun, banyak juga wanita yang menderita endometriosis tanpa menunjukkan gejala. Oleh karena itu untuk memastikannya diperlukan USG (Ultrasonography) dan dengan laparoskopi untuk melihat lebih jelas dimana letak endometriosis dan melihat keparahannya.
Endometriosis dapat diatasi dengan operasi laparoskopi untuk menghilangkan jaringan endometrial yang tumbuh tidak normal pada penderita. Teknik operasi laparoskopi bisa mempertahankan endometriosis tidak kambuh dalam jangka waktu yang lama. Terapi dengan obat-obatan golongan kontrasepsi oral juga bisa dilakukan yaitu dengan kombinasi estrogen dan progestin. Kombinasi estrogen dan progestin merupakan pilihan pertama untuk mengatasi nyeri pada pelvis karena endometriosis. Progestin tunggal, tanpa estrogen juga bisa digunakan untuk terapi, misalnya Noretindron asetat, Dienoges, Danazol dan obat-obatan agonis GnRH.
Penyebab dari endometriosis memang belum diketahui, namun kita harus tetap menjaga kesehatan organ reproduksi dengan menjaga kebersihan organ kelamin serta mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi. Sebaiknya jangan langsung menyimpulkan sendiri jika mengalami gejala yang mirip dengan endometriosis karena untuk memastikan endometriosis perlu pemeriksaan khusus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar