Istilah
Kesehatan Mental diambil dari konsep mental hygiene, kata mental
berasal dari bahasa Yunani yang berarti Kejiwaan. Kata mental memilki
persamaan makna dengan kata Psyhe yang berasal dari bahasa latin yang
berarti Psikis atau Jiwa, jadi dapat diambil kesimpulan bahwa mental
hygiene berarti mental yang sehat atau kesehatan mental.
Kesehatan
mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental
baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap
lingkungan sosial).
Zakiah Daradjat (1985:10-14) mendefinisikan kesehatan mental dengan beberapa pengertian :
a. Terhindarnya orang dari gejala - gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala - gejala penyakit jiwa(psychose).
b. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana ia hidup.
c. Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagian diri dan orang lain; serta terhindar dari gangguan - gangguan dan penyakit jiwa.
a. Terhindarnya orang dari gejala - gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala - gejala penyakit jiwa(psychose).
b. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana ia hidup.
c. Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagian diri dan orang lain; serta terhindar dari gangguan - gangguan dan penyakit jiwa.
Kesehatan
mental seseorang sangat erat kaitannya dengan tuntutan-tuntutan
masyarakat tempat ia hidup, masalah-masalah hidup yang dialami, peran
sosial dan pencapaian-pencapaian sosialnya.
Berdasarkan
orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental memiliki pengertian
kemampuan seseorang untuk dapat menyesuaikan diri sesuai tuntutan
kenyataan di sekitarnya. Tuntutan kenyataan yang dimaksud di sini lebih
banyak merujuk pada tuntutan yang berasal dari masyarakat yang secara
konkret mewujud dalam tuntutan orang-orang yang ada di sekitarnya. M.
Jahoda, seorang pelopor gerakan kesehatan mental, memberi definisi
kesehatan mental yang rinci. Dalam definisinya, “kesehatan mental adalah
kondisi seseorang yang berkaitan dengan penyesuaian diri yang aktif
dalam menghadapi dan mengatasi masalah dengan mempertahankan stabilitas
diri, juga ketika berhadapan dengan kondisi baru, serta memiliki
penilaian nyata baik tentang kehidupan maupun keadaan diri sendiri.”
Definisi
dari Jahoda mengandung istilah-istilah yang pengertiannya perlu
dipahami secara jelas yaitu penyesuaian diri yang aktif, stabilitas
diri, penilaian nyata tentang kehidupan dan keadaan diri sendiri.
Penyesuaiaan
diri berhubungan dengan cara-cara yang dipilih individu untuk mengolah
rangsangan, ajakan dan dorongan yang datang dari dalam maupun luar
diri. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh pribadi yang sehat mental
adalah penyesuaian diri yang aktif dalam pengertian bahwa individu
berperan aktif dalam pemilihan cara-cara pengolahan rangsang itu.
Individu tidak seperti binatang atau tumbuhan hanya reaktif terhadap
lingkungan. Dengan kata lain individu memiliki otonomi dalam menanggapi
dan menyesuaikan diri dengan lingkungan
2. Ciri-ciri Kesehatan Mental
Ciri-ciri kesehatan mental dikelompokkan kedalam enam kategori, yaitu:
a. Memiliki sikap batin (Attidude) yang positif terhadap dirinya sendiri.
b. Aktualisasi diri.
c. Mampu mengadakan integrasi dengan fungsi-fungsi yang psikis ada.
d. Mampu berotonom terhadap diri sendiri (Mandiri).
e. Memiliki persepsi yang obyektif terhadap realitas yang ada
f. Mampu menselaraskan kondisi lingkungan dengan diri sendiri. (Jahoda, 1980).
a. Memiliki sikap batin (Attidude) yang positif terhadap dirinya sendiri.
b. Aktualisasi diri.
c. Mampu mengadakan integrasi dengan fungsi-fungsi yang psikis ada.
d. Mampu berotonom terhadap diri sendiri (Mandiri).
e. Memiliki persepsi yang obyektif terhadap realitas yang ada
f. Mampu menselaraskan kondisi lingkungan dengan diri sendiri. (Jahoda, 1980).
3. Karakteristik Mental yang Sehat
a. Terhindar dari Gangguan Jiwa
Zakiyah Daradjat (1975) mengemukakan perbedaan antara gangguan jiwa (neurose) dengan penyakit jiwa (psikose), yaitu:
- Neurose masih mengetahui dan merasakan kesukarannya, sebaliknya yang kena psikose tidak.
- Neurose kepribadiannya tidak jauh dari realitas dan masih hidup dalam alam kenyataan pada umumnya. sedangkan yang kena psikose kepribadiaannya dari segala segi (tanggapan, perasaan/emosi, dan dorongan-dorongan) sangat terganggu, tidak ada integritas, dan ia hidup jauh dari alam kenyataan.
b. Dapat Menyesuaikan Diri
Penyesuaian diri (self adjustment) merupakan proses untuk memperoleh/ memenuhi kebutuhan (needs satisfaction),
dan mengatasi stres, konflik, frustasi, serta masalah-masalah tertentu
dengan cara-cara tertentu. Seseorang dapat dikatakan memiliki
penyesuaian diri yang normal apabila dia mampu memenuhi kebutuhan dan
mengatasi masalahnya secara wajar, tidak merugikan diri sendiri dan
lingkungannya, serta sesuai denagn norma agama.
c. Memanfaatkan potensi semaksimal mungkin
Individu
yang sehat mentalnya adalah yang mampu memanfaatkan potensi yang
dimilikinya, dalam kegiatan-kegiatan yang positif dan konstruktif bagi
pengembangan kualitas dirinya. pemanfaatan itu seperti dalam
kegiatan-kegiatan belajar (dirumah, sekolah atau dilingkungan
masyarakat), bekerja, berorganisasi, pengembangan hobi, dan berolahraga.
d. Tercapai kebahagiaan pribadi dan orang lain
Orang
yang sehat mentalnya menampilkan perilaku atau respon-responnya
terhadap situasi dalam memenuhi kebutuhannya, memberikan dampak yang
positif bagi dirinya dan atau orang lain. dia mempunyai prinsip bahwa
tidak mengorbankan hak orang lain demi kepentingan dirnya sendiri di
atas kerugian orang lain. Segala aktivitasnya di tujukan untuk mencapai
kebahagiaan bersama.
4. Gangguan Mental
Gangguan mental yang dijelaskan oleh (A. Scott, 1961) meliputi beberapa hal :
a. Salah dalam penyesuaian sosial, orang yang mengalami gangguan mental perilakunya bertentangan dengan kelompok dimana dia ada.
b. Ketidak bahagiaan secara subyektif
c. Kegagalan beradaptasi dengan lingkungan
d. Sebagian penderita gangguan mental menerima pengobatan psikiatris dirumah sakit, namun ada sebagian yang tidak mendapat pengobatan tersebut.
b. Ketidak bahagiaan secara subyektif
c. Kegagalan beradaptasi dengan lingkungan
d. Sebagian penderita gangguan mental menerima pengobatan psikiatris dirumah sakit, namun ada sebagian yang tidak mendapat pengobatan tersebut.
Seseorang
yang gagal dalam beradaptasi secara positif dengan lingkungannya
dikatakan mengalami gangguan mental. Proses adaptif ini berbeda dengan
penyesuaian sosial, karena adaptif lebih aktif dan didasarkan atas
kemampuan pribadi sekaligus melihat konteks sosialnya. Atas dasar
pengertian ini tentu tidak mudah untuk mengukur ada tidaknya gangguan
mental pada seseorang, karena selain harus mengetahui potensi
individunya juga harus melihat konteks sosialnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar